2014-01-06

Kala sosokmu menghilang, otakku tak mampu tenang.
Ribuan tanya menghampiri benak, tapi tak ada jawaban yang emas atau perak.
Walau selamat tinggal akhirnya datang, bayangmu takkan hilang dimakan petang.
Saat pohon yang tertanam ini mulai besar, kenapa kau pergi seakan gusar?

Mungkin, sudah saatnya aku tersadar.
Bangun dari mimpi diluar nalar.
Realita menusuk telak menggoncang jiwa yang rusak.

Kamu putri, aku duri.
Sekeras apapun usahaku, ujung jariku takkan mampu menggapaimu.
Jika dari awal tak ada cinta, kenapa harus memaksa?