Hari ini cangkirku masih kosong. Entah sudah berapa kali aku mencoba mengisinya dengan yang lain. Tapi sampai saat detik terakhir aku menulis ini, belum ada satupun teh yang sebanding dengan hangatnya air teh kepribadianmu. Aku sudah mencari ke berbagai tempat. Bertanya apakah ada yang menjual teh semanis dan sehangat dirimu? Lalu mereka menawarkanku bermacam-macam merek. Tetapi tetap, walau sebanyak apapun gula dan air panas yang ku tuangkan, semua terasa hambar jika bukan kau yang mengisi seluruh sisi ruang cangkirku.
Sejujurnya aku menyesal tidak mencicipi mu dulu. Yang kulakukan hanyalah mencium aroma uap kepedulian darimu. Tanpa menyadari, bahwa ada rasa sayang yang kau selipkan lewat butir-butir hangat katamu. Sikap dingin itukah yang membuatmu membeku. Lalu diam-diam berubah menjadi uap kecil dan meninggalkanku?
Wadah cangkirku semakin berkarat. Gagangnya pun semakin retak. Mungkin tak lama lagi benda itu akan pecah. Berserakan berkeping-keping seperti sampah. Tapi sebelum semuanya benar-benar hancur dan lenyap. Izinkan aku tuk berkata bahwa sepahit apapun dirimu sekarang, aku masih tetap mengingatmu. Namun perlahan, sosokmu kian memudar. Yang tinggal hanyalah disaat kita bermain bersama, dibawah hujan kita..